Make your own free website on Tripod.com

Bersamaan dengan laju pembangunan fisik kita juga menghadapi dilema yang sulit diselesaikan. Inti pembangunan fisik ialah industrialisasi; inti industrilisasi ialah teknikalisasi; inti teknikalisasi ialah materialisasi. Jadi, pembangunan fisik itu intinya ialah materialisasi. Materialisasi adalah kata lain despiritualisasi. Dengan membangun keperluan fisik kita juga berarti melatih orang untuk menjadi materialist, jadi, dilatih untuk menolak semua yang spiritual. Di pihak lain pembangunan bidang agama umumnya, pendidikan agama khususnya, adalah suatu proses spiritualisasi. Pada tingkat akademik saja, dilema ini sudah merupakan dilema yang sulit diselesaikan, apalagi pada tingkat kebijakan.

Dalam budaya modern itu manusia akan semakin individualis. Individualis seringkali berarti mementingkan diri sendiri. Kepentingan dunia, kepentingan kelompok, kadang-kadang tidak ada kamusnya lagi dalam pemikirannya, bahkan kepentingan keluarga pun tidak. Ia bekerja sama dengan orang lain hanya terbatas bila kerja sama itu menguntungkan dirinya, bila tidak, tidak.

Persaingan yang seringkali menjadi salah satu penyebab banyaknya pemuda frustasi, muncul dari watak individualisme itu. Padahal pendidikan kita belum mampu menyiapkan lulusan yang sanggup memasuki persaingan.

Bersaing, pada dasarnya adalah watak binatang. Karena itulah mungkin taring hewan disebut saing. Islam tidak mengajarkan persaingan, yang diajarkan Islam ialah kerja sama. Ungkapan Al-Qur’an fastabiqulkhayrat ( berlomba berbuat baik ), bukan menyuruh orang Islam bersaing. Bersaing itu adalah watak hewan. Sedangkan individualisme itu mengajarkan persaingan. Saya heran, sekarang ini sering sekali orang mengatakan bahwa untuk memasuki dunia global nanti pengusaha kita harus mampu bersaing, sumber daya manusia kita juga haruslah orang-orang yang mampu bersaing. Ke arah mana sih, kebudayaan kita ini hendak dikembangkan? Saya tidak tahu siapa yang harus menjawab pertanyaan ini.

Karena budaya modern ( Barat ) itu memulai perkembangannya dengan Rasionalisme, maka salah satu turunannya ialah Pragmatisme. Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah yang berguna. Sialnya, yang dimaksud berguna biasanya ialah yang berguna secara fisik. Memang, paham ini akarnya adalah paham materualisme juga.

Dari Rasionalisme, Materialisme dan Pragmatisme itu muncul Hedonisme yang menggegerkan itu. Paham ini mengajarkan bahwa yang benar ialah sesuatu yang menghasilkan kenikmatan; tugas manusia ialah menikmati hidup ini sebanyak dan seintensif mungkin. Sialnya lagi, yang ditemukan ialah bahwa kenikmatan tertinggi dan paling berkesan ialah kenikmatan seksual. Itulah sebabnya pada zaman modern ini anda menyaksikan hampir semua kegiatan hidup diarahkan ke penikmatan seksual, Hampir semua produk diarahkan kepenikmatan seksual. Pergaulan seks bebas yang biasanya menjengkelkan Anda itu, jelas datangnya dari paham ini. Orang modern heran, mengapa orang Islam menolak seks bebas. Sekarang Anda tahu mengapa merekaheran.

Sebetulnya masih banyak isi kebudayaan modern itu yang tidak menyenangkan orang Islam. Saya hanya menjelaskan secara ringkas lima itu saja karena yang lain-lainnya tentu sudah banyak Anda ketahui. Sebagian besar isi kebudayaan modern itu merupakan musuh yang akan menghancurkan keberagamaan kita dan terutama remaja kita.

Sementara itu kita sudah nawaitu hendak menjadi orang modern. Oke, tetapi kita harus mampu menyaring nilai-nilai mana dari modernitas itu yang boleh kita ambil dan nilai mana yang jangan. Pendidikan agamalah yang bertugas memberikan filter pada remaja kita.

P E N U T U P

Uraian di atas tidak hendak mengatakan bahwa Islam anti modernitas. Islam menerima banyak isi kebudayaan modern. Hanya sebagian saja dari isi kebudayaan modern itu yang ditolak Islam. Yang ditolak itu adalah nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lantas bagaimana memilihnya?

Pendidikan agama yang diberikan sejak dini sekali, ditambah dengan pendidikan agama di sekolah setelah anak itu tiba pada umur sekolah akan mampu menjadi filter dalam menanggapi globalisasi kebudayaan Barat ( Modern ) tersebut.2

Wassalamu'alaikum wr wb